Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Diary. Tampilkan semua postingan

Selasa, 14 Juni 2016

Catatan di Bulan Ramadan 2016

Sejenak terlintas beberapa pertanyaan di benakku saat melihat ramainya berita di media elektronik, dan di media sosial mengenai seorang Ibu yang menangis histeris akibat seisi rumah makannya “dijarah” oleh satpol PP yang melaksanakan razia rumah makan yang buka saat umat Muslim berpuasa di bulan Ramadan.

Sebenarnya puasa itu ditujukan untuk siapa?
  • Untuk umat Muslim sendiri ? Ataukah juga “dipaksakan” untuk orang lain misalnya yang non Muslim, yang sedang tidak boleh berpuasa, dan yang mendapat pengecualian untuk tidak berpuasa ?
  • Apakah mencari rezeki dengan buka rumah makan di saat bulan puasa merupakan dosa ataupun tindak kejahatan sehingga harus sembunyi – sembunyi ibarat sedang melakukan transaksi yang melanggar hukum negara?
  • Dalil maupun hadist mana yang melarang seseorang untuk membuka rumah makan di bulan puasa?
  • Jika dibilang tidak menghargai yang sedang berpuasa, apakah tidak cukup dengan menutupnya dengan tirai agar tidak terlihat dari luar?
  • Apakah tingkat daya uji puasanya hanya sebatas celah pintu rumah makan? Sampai – sampai rumah makan yang sudah tertutup kain dengan pintu yang sedikit terbuka saja bisa mengganggu ibadah puasa seseorang? Selemah itukah niat berpuasanya?
  • Apakah ibadah yang didirikan dengan cara mempersulit orang lain ada pahalanya dan apakah pahalanya berkah?

Untuk hal yang satu ini mungkin bukan kapasitas saya untuk menjawabnya, bukan juga kapasitas Anda untuk menjawabnya, karena urusan amal ibadah adalah hak mutlak bagi Sang Khalik untuk menentukannya.

Terlepas dari semua pertanyaan di atas, ada suatu pengalaman menarik yang saya alami sendiri di kantor beberapa tahun yang lalu.

Di kantor,  saya berada satu ruangan dengan beberapa umat Muslim. Di ruangan tersebut hanya saya sendiri yang non Muslim. Pada saat itu sedang bulan puasa. Saat jam makan siang tiba, saya membawa seluruh bekal makanan dan minuman saya untuk dimakan di ruangan lain yang agak jauh dari ruangan tempat posisi saya berada (Note : Di kantor saya tidak ada pantry, tidak menggunakan sekat cubicle dan biasanya makan di tempat masing - masing). Ini sebagai bentuk tata krama saya dalam menghargai rekan saya yang sedang menjalankan ibadah puasa, agar mereka dapat melaksanakan ibadahnya tanpa gangguan dari saya.

Setelah selesai makan siang, saya kembali ke dalam ruangan & mereka bertanya kepada saya selayaknya kami sedang ngobrol santai.

“Kok makannya pindah ruangan?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya, kalian kan sedang berpuasa. Segan aku, nanti puasa kalian jadi terganggu dengan aroma makananku” jawabku
“Gak apa – apa koq, gak bakalan ngaruh sama kami karena kami kan memang sudah meniatkan diri sejak sahur untuk berpuasa seharian. Elo mau makan di hadapan kami juga gak bakalan ngaruh.” jawab rekan saya yang lain.
“Iya, lain kali makan disini aja gak apa – apa koq. Gak usah pindah sampai sejauh itu” timpal rekan saya yang lainnya.
‘Iya deh” jawab saya.

Jawaban rekan saya secara otomatis membuat saya semakin menghargai mereka yang sedang menjalankan ibadah puasa, (dibandingkan dengan mereka yang teriak – teriak minta dihargai :p). Alhasil mulai saat itu saya makan di tempat saya tetapi sebisa mungkin saya tetap menjaga agar tidak sampai mengganggu ibadah teman saya, dengan cara hanya makan dan minum saat memang sudah terasa lapar & haus, itu pun dengan posisi agak menyamping atau membelakangi mereka agar tidak langsung frontal menampakkan diri sedang makan / minum di hadapan mereka (segan lha . . , jangan lantaran sudah dikasih izin langsung bablas hehehe).

Itu adalah contoh menghargai karena adanya kesadaran bahwa hak kita sendiri juga dihargai, bukan menghargai karena diminta untuk menghargai. Coba bandingkan mana yang lebih mulia? Dihargai karena kesadaran dan ketulusan seseorang karena haknya (untuk makan dan minum) juga dihargai, atau dihargai karena diminta (di paksa dengan cara razia?)?

Jika mengibaratkan puasa sebagai ujian, maka kondisi di sekelilingnya diibaratkan sebagai tingkat kesulitan ujiannya. Jika berhasil mengatasi ujian dengan tingkatan yang amat sangat sulit, maka hasil kemenangannya akan lebih terasa luar biasa. Bukankah kenikmatan yang dialami oleh seorang pendaki gunung di atas puncak adalah hasil dari usahanya dalam menaklukkan medan yang berat dan berbahaya?

Tentu beda rasanya apabila mendapatkan kemenangan dengan mudah tanpa adanya ujian yang berat. Ibaratnya ujian di kampus dengan sistem open book, nilainya dapat tapi ilmunya gak dapat.

Jika senantiasa mengharapkan kemudahan dalam setiap ujian kehidupan, maka dimana letak esensi dari kemenangan yang hakiki?
Janganlah meminta keringanan untuk setiap bebanmu, tetapi mintalah punggung yang kuat untuk mengangkat seluruh bebanmu. Itu akan menjadikanmu pribadi yang kokoh dan cemerlang, karena ombak yang tenang tidak akan pernah menghasilkan pelaut yang tangguh.

Selamat menjalankan ibadah puasa.
(14 Juni 2016, di bulan Ramadan yang damai di kantor)

Rabu, 11 Februari 2015

(Late) New Year Wish

Tuesday, 11 February 2015

     Aih.., aih..., aih..., tak terasa ternyata sudah melewati tahun 2014 dan sekarang sudah memasuki bulan Februari di tahun 2015 ini, yang artinya sebentar lagi kita akan merayakan Imlek (Happy Chinese New Year !! Gong Xi Fa Cai !! Yeaaayyy !! #Hyped).

     Tahun 2014 telah berhasil dilewati dengan lancar & aman, meskipun di tahun tersebut saya lumayan "terseret-seret" dibuatnya namun untunglah tidak sampai "babak belur", tetapi tahun 2014 juga mengukir catatan bersejarah di dalam keluarga kecil saya. Yaph, seorang bidadari cilik yang diberi nama Angelica Renata Tam, hadir dan menambah suasana keceriaan di tengah-tengah keluarga kecil kita. Meskipun kadang merasakan yang namanya "Hard Day" tetapi ketika melihat perkembangan si pesek yang satu ini, tiba-tiba saja ada secercah asa yang menerangi dan menuntun langkah di jalan yang remang-remang ini (ceileee, bahasanya....). Dengan hadirnya sepasang "Anugerah Yang Kuasa" maka lengkaplah sudah kebahagiaan di dalam keluarga kecil ini.

     Seperti pada umumnya, dalam memasuki tahun yang baru tentulah disertai dengan harapan yang baru, demikian juga dengan saya ketika memasuki tahun 2015. Pada tahun 2015 ini saya berdoa agar keluarga saya senantiasa diberkati dengan kesehatan, keharmonisan, dan rezeki yang lancar. Amin.

Selasa, 05 Oktober 2010

Tiket-Oh-Tiket

"Dapatkan harga lebih murah dengan pemesanan lebih awal"
Begitulah kira-kira bunyi iklan dari suatu maskapai penerbangan yang telah terkenal dengan low fare flight-nya dan secara kebetulan karena memiliki rencana untuk traveling maka saya pun segera memesan via internet dengan harapan bakal mendapat harga yang termurah.
Berhubung tidak ada penerbangan yang langsung menuju tujuan, maka saya pun menggunakan pesawat transit. Saya mencari jadwal penerbangan yang paling awal agar tidak ketinggalan pesawat berikutnya pada hari yang sama (karena saya tidak begitu mengenal wilayah transit, jadi tidak berniat untuk menginap), kemudian saya memesan dan mencetak tiket secara online.
"Bagus, tinggal angkat koper" pikirku karena telah menemukan dan menyusun jadwal perjalanan saya dengan rapi.
Tidak ada hal yang lebih menyenangkan saat berlibur bagi seorang perfeksionis seperti saya selain tiket yang murah dan jadwal perjalanan yang rapi. Untuk itulah saya memutuskan untuk memesan segala transportasi dan akomodasi 6 bulan lebih awal dari jadwal keberangkatan agar saya bisa fokus untuk mengatur jadwal yang lainnya.
Ternyata tidak semuanya berjalan dengan sesuai harapan. Tiga bulan berikutnya ada malam hari, saya mendapatkan informasi dari seorang teman bahwa jadwal penerbangan maskapai yang saya tumpangi telah berubah & tanpa pemberitahuan via sms maupun call pula. Shock? La iya la . . masa la iya dong . . , karena dengan demikian alamat kacaulah seluruh jadwal perjalanan saya. Bayangkan saja, saya memesan penerbangan paling awal di hari itu ternyata mundur menjadi penerbangan malam, sehingga sudah dapat dipastikan saya akan ketinggalan penerbangan selanjutnya. Secepatnya saya memeriksa jadwal penerbangan di internet dan ternyata memang berubah. Untunglah dari pihak maskapai menyediakan call center yangstandby 24 jam, maka tanpa mengulur waktu saya langsung saja menghubungi call center yang berada di Pusat untuk complain. Setelah 2 kali menelepon malam-menjelang-pagi (1 kali untukcomplain & 1 kali untuk flight confirm) yang disertai dengan "kata pengantar" yang cukup panjang & (menurutku) kelewat-cerewet-banget-sih akhirnya masalah teratasi. Saya mendapat pergantian hari tanpa tambahan biaya, maka saya memilih untuk mundur satu hari meskipun belum tahu bakal nginap di mana saat tiba di lokasi transit (syukur-syukur kalo ada pramugari yang berbaik hati mau berbagi kamar. Wahahaaha . . . !!). That's better daripada saya harus menghadapi jadwal yang mundur lagi.
Sudah selesaikah sampai di situ?
Ternyata belum mas, belum . . . , suer belum . . . , karena jadwal return flight / penerbangan kembali dari maskapai yang satu lagi (low cost carrier) juga mengalami perubahan jadwal. Lagi-lagi jam penerbangan diundurkan & (sekali lagi) saya pasti terlambat untuk penerbangan lanjutan. "Sempurna, gue suka gaya maskapai loe. Watdehel yuar"
Dengan situasi demikian, maka kembalilah saya harus mengangkat telepon untuk complain hingga masalah ini teratasi.
Dari hasil pengamatan serta analisa terhadap apa yang saya alami, maka saya bisa menarik hipotesa sementara & menyimpulkan bahwa kalimat pada iklan tersebut seharusnya ditambah tanda asterik (*) dan disertai keterangan : "yah . . , sedikit bersusah payah la . ."
Pengen murah malah tambah mahal karena harus telepon lama untuk complain. Ck ck ck . . .

Rabu, 29 September 2010

One Step Ahead : Marriage ?!

Yeah !! Marriage !!
Sebuah kata yang tidak pernah saya pikirkan secara serius karena saya menjalani hubungan ini dengan santai alias let it flow. Bukan berarti saya tidak memikirkan masa depan atau arah hubungan ini, tetapi saya tidak pernah memikirkan respon apa yang harus saya berikan saat kata "marriage" ini disodorkan hingga pada suatu hari saat nyokapnya memulai pembicaraan dengan begitu mulus.

"Saya lihat hubungan kamu dengan anak saya makin lancar aja" kata nyokapnya

"Hehehehe, iya Bu. Syukur gak pernah bermasalah" jawabku disertai senyum termanis.

"Menurutmu anak saya bagaimana? Cocok gak?" tanyanya.

Saat ini saya belum menyadari arah pembicaraan dan maksud yang sebenarnya dari pertanyaan tersebut, maka dengan ringannya saya menjawab :
"Anak Ibu baik koq & saya juga merasa cocok dengannya"

"Sudah 4 tahun kamu jalan dengan anak saya & saya juga melihat kecocokan di antara kalian"
Saya mulai senyam-senyum sementara Ibunya kembali berbicara.

"Dia adalah anak bungsu, semua saudara/i-nya juga sudah berkeluarga"
Di sini feeling alarm saya sudah mulai berdering sebagai petanda akan adanya sesuatu yang bakal mengejutkanku dan ternyata benar saja saat Ibunya melanjutkan kalimatnya dengan agak pelan.

"Jadi, kapan kalian mau menikah?"

DJEDDHUEEERR !!!

Akhirnya pertanyaan ini tiba juga menghampiriku dan jujur saat itu saya masih belum mempersiapkan jawaban untuk pertanyaan dadakan semacam ini.
Suhu tubuhku menurun drastis & saya bisa merasakan aliran darah yang tiba-tiba turun dari wajah saya. Seolah-olah memberiku waktu untuk berpikir, Ibunya kembali berkata :
"Yah, dia adalah satu-satunya yang masih belum berkeluarga, sedangkan saudara/i-nya bahkan sudah memiliki anak."
"Kalian sudah lama berpacaran dan saya juga merestui hubungan kalian, jadi ada baiknya jika kalian menikah saja" lanjutnya.

Jantungku mulai berdetak dengan kencang, seolah-olah menunggu pemicu agar jantung ini bisa melompat keluar dan akhirnya satu pertanyaan berikutnya yang benar-benar membuat jantung ini hampir berhenti boro-boro melompat keluar.

"Lantas, kapan kalian akan menikah?"

Oh my God !!! Pertanyaan itu . . , pertanyaan itu . . .
Akhirnya tiba juga saat di mana saya harus menghadapi pertanyaan itu dan pertanyaan itu tentu HARUS DIJAWAB.
Bagiku tidak ada soal ujian yang lebih sulit yang harus kuhadapi baik saat sekolah maupun kuliah selain pertanyaan yang satu ini.
Ini adalah pertanyaan yang tidak bisa diselesaikan hanya dengan melihat buku teks ataupun kertas contekan, juga tidak mungkin kutanyakan pada tetangga sebelah ?!

Akhirnya, dengan berbekal ingatan mengenai celetukan-asal-kena dari nyokap saya saat tetangga-usil-mo-tau-urusan-orang menanyakan kapan saya akan menikah maka saya pun menjawab setelah Ibunya menggodaku dengan mengatakan :
"Sekarang aja yah?"

Weleh, weleh . . , dah gak sabaran ternyata.
Ck . . ck . . ck . .

Akhirnya, setelah menarik napas panjang dan beberapa kali komat-kamit baca doa, saya pun menjawab :
"Tahun 2010!"

Ahh . . , lagu "We are the champions" seolah-olah bergema di benak saya dengan gagahnya, diiringi siraman bunga dari malaikat cilik serta turunya cahaya keemasan dari surga tepat diatasku kepalaku sesaat setelah saya memberikan jawaban.

Yah . . , saya telah memberikan jawaban.
Sebuah jawaban yang menentukan masa depanku.
Sebuah jawaban yang merupakan janji seumur hidupku.
Dan pada akhirnya, saya berhasil melewati tahap yang mendebarkan, tahap yang menandakan bahwa saya telah berkonsekuensi untuk mengambil satu langkah ke depan.
I said it and then I'll do it

Sabtu, 18 April 2009

W-A-N-I-T-A (my big mystery)

Apa yang pertama kali anda bayangkan saat membaca ataupun mendengar kata "WANITA" ?
Indah ? Anggun ? Cantik ? Menawan ?
Boleh, bisa saja . . dan mungkin sebagian dari Anda akan membayangkan dari sisi sensualitas juga. Tak masalah, itu sah-sah saja karena merupakan pendapat anda yang tidak boleh saya interupsi.
Lalu apa yang anda bayangkan ketika pertama kali membaca judul di atas ?
Penasaran ? Tentu saja . . .

     Bagaimana jika saya mengatakan bahwa wanita adalah makhluk yang tampak indah pada bagian luarnya tetapi sangat rumit dan rapuh di dalamnya ? Ada yang complain ? Boleh-boleh saja, itu wajar karena setiap orang memiliki pendapat yang berbeda-beda dan saya menghargai itu
(but hey ! Ini adalah blog saya dan juga merupakan sarana pribadi saya untuk menumpahkan segala uneg" maupun pemikiran saya seperti yang telah saya postingkan pada blog Introduce. Jadi apapun pendapat saya di sini adalah merupakan bagian dari pemikiran dan uneg" saya yang juga tidak boleh diinterupsi)

Mengapa saya mendefinisikan wanita seperti yang demikian ?
Karena dari hari Sabtu kemarin hingga hari ini (mungkin besok & beberapa hari ke depan juga) saya mengalami masalah dengan wanita, lebih tepatnya dengan perasaan wanita dan wanita itu tak lain dan tak bukan adalah (edited for privacy.red)

     Sampai hari ini saya tidak mengerti mengapa wanita lebih memilih untuk menyimpan masalah daripada merundingkannya bersama, padahal saya juga sebagai orang yang ikut terlibat dan memiliki andil dalam masalah ini. Memang sih ini masalah antar individual 2 insan yang cukup kompleks. Jika ada kata bijak yang berbunyi "Janganlah pernah menebak isi hati (perasaan) Wanita, tetapi langsung tanyakan saja. Karena isi hati Wanita lebih dalam dari samudera yang terdalam dan juga menyesatkan bagai labirin", lantas mengapa para Wanita lebih suka menyembunyikan perasaannya dan mengharapkan agar pria bisa menebak isi hatinya ?

     Ok . . , Ok . . , wanita memang makhluk introvert yang tidak bisa dengan gamblangnya mengekspresikan isi hati / perasaannya dibandingkan dengan pria yang bisa dengan gampangnya mengekspresikan diri.
Berpegang pada kata bijak di atas, saya telah mencoba untuk menanyakan isi hatinya secara langsung tetapi wanita tersebut enggan untuk memberikan jawaban. Pretending everything is under control, tetapi meskipun demikian raut wajahnya telah mengirimkan impulse sinyal yang dapat dengan mudahnya ditangkap oleh saya. Saya tahu masalahnya mempunyai kaitan dengan diri saya, maka demi meringankan bebannya saya mencoba untuk menebak isi hatinya. Tetapi sayang . . . , saya gagal . . . . , saya tidak berhasil menjangkau isi hatinya, malah menginjak ranjau yang tersebar disekitar isi hati tersebut. Alhasil dia menjadi ngambek, BT, dan mungkin menjadi benci kepada diri saya hingga hari ini.

     Jika dia memang tidak menghendaki saya untuk menebak isi hatinya mengapa harus mengirimkan impulse sinyal kepada saya dan berharap agar saya bisa menebaknya ?
Sebaliknya jika dia memang menghendaki agar saya mengetahui isi hatinya mengapa dia tidak langsung saja mengungkapkannya secara pribadi kepada saya?
Lantas saat saya gagal menebaknya, mengapa dia harus merasa BT & ngambek?

     Saya benar-benar tidak bisa mengerti pola pikir seorang wanita. Dari luarnya dengan mudah kita bisa menilai seorang wanita tetapi dari bagian dalamnya jangan pernah Anda coba jika Anda tidak memiliki kemampuan untuk itu atau Anda akan berakhir dengan kondisi yang sama dengan saya.

"Women is really my BIG MYSTERY"

Minggu, 22 Maret 2009

Warning : Terlalu banyak berpikir = KONYOL, Gak pernah berpikir = DODOL

Pernah gak Anda mengalami suatu kondisi dimana saat itu Anda sedang mempunyai banyak hal yang harus dipikirkan (ntah hal itu penting ato hanya sekedar lagi gak ada kerjaan) sehingga karena terlalu fokus dengan pemikiran tersebut maka terjadilah hal-hal yang konyol
Saya baru saja mengalaminya pada tgl 20 Maret kemaren neh, sumpeh, saya malu abis gara" kejadian neh

Gini nih ceritanya .... (disarankan jangan membaca blog ini sambil makan ataupun sambil minum, daripada Anda harus membersihkan monitor plus mengganti keyboard Anda) :
Sudah menjadi agenda rutin saya untuk melakukan transaksi ke bank setiap paginya, dan biasanya saya pergi dengan ditemani oleh seorang supir. Kebetulan pada hari tersebut saya sedang mempunyai banyak urusan yang harus diselesaikan dan menjadi beban pikiran saya
Saat bertransaksi di bank pun saya masih memikirkannya bahkan saat sedang berjalan juga saya masih memikirkannya. Ibaratnya saya melakukan sesuatu tanpa didasari kesadaran 100%. Karena sudah menjadi rutinitas setiap pagi maka saat itu saya melakukan sesuatu hanya berdasarkan "program" yang telah tertanam akibat kebiasaan, sedangkan kesadaran saya ntah kemana-mana, seperti robot yang mengerjakan sesuatu tetapi tidak tahu apa yang sedang dikerjakannya.

Kejadian konyolnya mulai dari sini neh..
Selesai transaksi dengan teller yang bisa bikin nasabah teler (asli tellernya cantik") maka saya keluar dari bank dan berjalan ke tempat dimana mobil saya diparkir oleh supir. Selama berjalan saya terus tenggelam dalam pemikiran saya sendiri. Lalu tibalah saya pada mobil yang diparkir, saat itu langsung saja saya membuka pintu mobil dengan gagahnya (muji dikit boleh dong sebelum nti ditertawain) dan melangkahkan kaki ke dalam sambil mengatakan "Balik Kantor Bang !" Ini adalah kalimat rutin bagi supir saya untuk mengantarkan saya ke destinasi berikutnya dan biasanya supir langsung menstarter mobilnya

Karena saya sedang fokus berpikir maka saya hanya duduk terdiam, setelah tunggu-punya-tunggu kok tidak ada reaksi dari supir saya, maka akhirnya saya pun menoleh dengan muka masam karena supir tidak reaktif dan ketika saya menolah, saya melihat sesosok wajah yang tampak kebingungan plus dengan gaya melongo
Cukup 0.5 detik akhirnya saya sadar dan membuat suatu kesimpulan yang akan saya kenang seumur hidup saya yaitu :

"YA AMPHOOOOOOOOOON ternyata yang duduk disebelah saya bukan supir saya dan mobil yang saya duduki pun bukan mobil yang saya pakai untuk ke bank. Itu artinya SAYA SALAH MASUK KE MOBIL ORANG LAIN, DODOL !! DAN SEENAKNYA MEMBERI PERINTAH PULA !!!!"

Supir mobil tersebut hanya melongo sambil memandang saya dan saya pun langsung turun sambil minta maaf berkali-kali pada supir tersebut. Supirnya sih senyum" aja, tapi saya merasa malu berat. Ingin rasanya saya bersembunyi di lubang terdalam.

Pesan moral untuk teman" pembaca : Jangan terlalu banyak berpikir daripada terjadi hal" yang konyol dan membuat ada malu tigaperempat mati dan jangan pula tidak berpikir nti dibilang tak berotak

Jumat, 13 Maret 2009

I'm Born Today

Yeaph . . , I'm Born Today
Maksudnya Blog ini akhirnya menetas juga setelah lama saya ingin mencoba menulis blog
Kendala awalnya adalah "Buta"-nya saya akan segala sesuatu yang bernama BLOG
Sering juga saya mendengar cerita dari teman-teman maupun membaca dari majalah/tabloid mengenai apa itu Blog. Tapi memang dasar bolot diceritain gimanapun juga saya tetap tidak mengerti. Akhirnya dengan bermodal nekad untuk coba-coba plus doa semalam suntuk dibawah guyuran hujan pada malam hari ini maka saya memulai my legendary first step untuk memasuki dunia "Diari Digital"
Adapun latar belakang utama lahirnya blog ini adalah karena adanya keinginan untuk menumpahkan segala (once again "SEGALA") bentuk uneg-uneg, pemikiran, maupun sekedar menyalurkan hobi ngoceh dalam bentuk tulisan. Anda pasti pernah mengalami suatu kondisi dimana Anda memiliki banyak hal yang ingin dikatakan, banyak pemikiran yang ingin diungkapkan, maupun banyak uneg-uneg yang ingin ditumpahkan. Kondisi tersebut bisa muncul kapan saja dan dimana saja, bahkan mungkin saat anda sedang "berjuang" di atas kloset (a.k.a. Jamban).
Jika berupa pemikiran maka lama kelamaan akan kadaluarsa, jika berupa sesuatu yang ingin diungkapkan maka lama kelamaan akan terlupakan, sedangkan jika berupa uneg-uneg maka lama-lama akan menjadi penyebab penyakit yang dikenal dengan nama "Penyakit Sakit Hati" dan kalau tidak segera diobati bisa berkembang menjadi "Penyakit Jiwa" yang akhirnya akan berurusan dengan Psikolog (syukur-syukur kalau belum berkembang menjadi "Gila")
Dengan berlandaskan tujuan mulia untuk mengurangi jumlah penghuni RSJ ataupun komunitas D'Orgils yang belakangan ini sedang ngetrend berparade di jalan protokol, dan demi kelangsungan hidup umat manusia di Indonesia yang tecinta ini maka saya memutuskan dengan tekad yang bulat dan membara untuk membuat suatu wadah yang bisa menampung segala (ingat ya... "SEGALA") bentuk pemikiran, keluh-kesah, ataupun kisah-kisah cerita dalam perjalanan hidup saya, sehingga pada akhirnya (yeah.. at last) menetaslah blog pertama dalam hidup seorang anak manusia yang saya namai "Blog Go Blog"
Tidak ada yang istimewa dengan pemilihan nama "Blog Go Blog" ini, hanya karena saya merasa enak didengar, gampang diucapkan, mengandung multi makna, dan terasa sangat Gue Banget
Dengan adanya "Blog Go Blog" maka segala kisah perjalanan hidup saya akan terekam abadi sebagai warisan untuk anak-cucu-cicit (cuit) kelak, agar mereka tahu sejarah hidup saya dan yang paling penting adalah agar mereka boleh berbangga karena Ayah / Kakek / Buyut mereka TIDAKLAH GAPTEK :)